Wulanda Revly Bookstore adalah Toko Online yang menjual wall sticker di Indonesia. Kami menjual berbagai jenis wall sticker, buku novel dan cerpen. Kami memberikan kepuasan dan kenyamanan untuk anda saat berbelanja. Met Shopping Friends. Hubungi kami 089646961326
Sabtu, 29 September 2012
Kamis, 20 September 2012
Sekolah PAUD , Fatawa School
Bismillah....
Dengan niat tulus dan segala kerendahan hati,
aku memutuskan untuk memulai membangun cita-citaku yang lama terpendam karena
keterbatasan.
Awalnya, aku takut untuk melangkah. Namun, satu
hal yang meyakiniku bahwa setiap mimpi yang diiringi doa dan kesungguhan
berupaya, maka kita bisa menemukan titik terang dan meraihnya.
Tak sedikit yang membuatku ragu. Tapi, Allah
Maha Tahu apa yang tersirat di hati hambanya. Allah membuatku berpikir dan saat
aku mulai mantap dengan tekad kemudian Allah kembali menguji dengan keraguanku.
Tapi, dengan terus berkomitmen dengan mempertahankan apa yang seharusnya
diperjuangkan, maka aku mengambil keputusan yang beresiko besar dan
mempertaruhkan kepercayaan dan yang Insya Allah demi kebaikan generasi muda. Aku
mendirikan sekolah Pendidikan Usia Dini ini yang kuberi nama Fatawa School. Semoga
sekolah ini bisa melahirkan anak-anak yang berakhlak baik, cerdas, taqwa. Amin.
Tapi, tidak berhenti sampai disini cita-citaku.
Karena, aku masih harus mengembangkan sekolah ini menjadi sekolah yang
berakreditasi A. Amin. Tapi, tentunya membutuhkan waktu.
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah
bagaimana bisa mendidik anak-anak. Lalu yang kedua adalah tetap dan terus
memperjuangkan sekolah ini sampai Insya Allah punya gedung sekolah sendiri. Kemudian,
aku tidak akan pernah melupakan cita-cita muliaku yang satu ini, yaitu
membangun sekolah gratis untuk anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan.
Amin. Qobul.
Rabu, 05 September 2012
suka duka jadi guru
Sebagai guru,
aku dituntut untuk bisa memahami dan mendidik anak-anak murid dengan berbagai
sifat dan kemampuan anak tersebut. Ada murid yang cerdas, mudah di arahkan,
hiper aktif, pasif, agresif. Hal itu membuat ku terkadang menjadi stres dan tak
terkendali.
Serumit inikah
menjadi seorang guru? Jawabnya tentu saja iya. Saat menghadapi anak yang
cerdas, penurut dan mudah mencerna apa yang disampaikan, hal itu akan menjadi
kebanggaan tersendiri dan tentu pula aku tidak perlu repot-repot mengulang apa
yang ku sampaikan. Namun, saat sangat merepotkan dan makan hati. tapi, itulah
suka dukanya mengajar anak-anak TPA.
Aku mulai
menikmatinya dan banyak belajar dari mereka. bahwa, kehidupan anak-anak itu
adalah bermain. Kehendak mereka tidak bisa dipaksakan. Karena mereka belum bisa
memahami apa yang dialami dan diingini oleh orang dewasa. Oleh sebab itu, aku
mencoba memasuki dunia mereka untuk bisa bersatu dengan mereka serta bisa
memahami apa yang mereka inginkan sehingga apa yang akan dan telah ku
sampaikan, bisa dicernanya dengan baik dan mudah.
Cara menghadapi
anak yang terlalu banyak inter mizo (istirahat):
Aku memiliki
murid yang bisa dibilang dia tidak memiliki tanggung jawab terhadap
kewajibannya sebagai murid. Misalnya, saat diminta untuk menulis maka ia
menawarnya. (tolong kerjakan hal 1 dari no 1 sampai no 5. Lalu ia menawarnya
dengan berkata “nulisnya sampai 3 aja ya,
bu?”). huuuuufffhhh... dasar anak-anak, memangnya dia pikir di pasar
apa? Hehehe.
Lalu terkadang
aku memakluminya, tapi aku juga lebih sering memberikan pengertian kepadanya
bahwa tugas itu adalah kewajibannya yang tidak boleh diabaikan atau
ditawar-tawar. Tugas itu, nantinya akan membantu menambah nilai kalian dan akan
membuat kalian makin pintar.
Anak yang
kebanyakan istirahat dalam mengerjakan tugasnya, seperti saat diminta untuk
menulis apa yang ditulis oleh guru dipapan tulis, ia kebanyakan bengong atau
bermain.
Seperti aku
menuliskan sebuah kata “aku sayang mama”. Si anak tersebut, menulisnya perhuruf
atau perkata, namun lebih sering berhentinya atau istirahatnya atau bermainnya.
Sehingga terkesan nulisnya lama. Untuk menghadapi anak yang seperti ini, aku
selalu mengingatkannya serta memberikan pengertian agar ia tahu kewajibannya
yang harus diselesaikan. Aku berkata padanya “..kalau kamu nulisnya lama, nanti
kamu bisa tidak naik kelas lho.” Dengan nada penuh cinta, jangan dibentak!. Tatap
matanya penuh kasih dan perhatian. Alhamdulillah, anak itu mulai bisa menyadari
tanggung jawabnya.
Selasa, 04 September 2012
mendirikan TPA FATAWA dirumah kontrakan
Bismillah........
Atas usulan tetangga dekat, aku
dan suami jadi membuka TPA (taman pendidikan al-quran) di rumah. Meski rumahnya
masih ngontrak,, tapi alhamdulillah mereka semua merasa nyaman.
Dimulai dari tgl 08-02-2010,
dengan jumlah santri 9 orang. Hingga kini per 2012 santri mencapai 30 orang.
Alhamdulillah...... walau kadang anak-anak ada yang perebutan tempat duduk
karena rumahnya sempit.
Sempat kepikiran untuk cari
donatur yang mau membangun tempat untuk TPA kami. tapi, siapa??? Untuk
sekarang, kami sudah cukup menikmati proses belajar dan mengajar di TPA FATAWA
di rumah kami yang mungil ini.
Kami tidak mempersoalkan biaya
apapun. Kami tidak mewajibkan santri untuk membayar iuran apapun. Tetapi,
banyak juga dari mereka yang memberikan iuran bulanan kepada kami. sebagai rasa
terima kasih kami atas kepercayaan mereka, kami akan memberikan yang terbaik
untuk mereka dengan segala kemampuan yang kami miliki. Kami juga hampir selalu
memberikan baik berupa uang, hadiah maupun buku dll sebagai alat pendukung dan
penyemangat belajar mereka. sebab, saat ini pengajian sering dianggap tidak
penting dibandingkan sekolah formal dan bimbingan belajar. Padahal persepsi itu
keliru. Namun, bukan berarti sekolah itu tidak penting. Melainkan, kita harus
pintar mendidik anak kita dengan dasar agama pula. Bukankah memperdalam ajaran
agama itu lebih penting????
Karena setelah meninggal dunia,
maka amalan kita akan terputus. Kecuali 3 hal yaitu, ilmu yang bermanfaat,
sedekah yang mengalir pahalanya dan doa anak yang sholeh.
Meskipun seluruh dunia mendoakan
orang yang sudah meninggal, tapi tetap saja doa yang sampai itu adalah doa dari
anaknya sendiri. Lalu bagaimana seorang anak bisa mendoakan orang tuanya jika
ia tidak diajarkan untuk mengenal agamanya sendiri?
Jadi, marilah para orang tua.
Kita bersama mendidik anak-anak kita dengan pondasi agama.
Minggu, 01 Januari 2012
target gue di tahun 2012?
Alhamdulillah,
usai sudah tahun 2011..
Di tahun 2011
silam, gue banyak belajar dari keseharian gue dan lingkungan. Banyak hal yang
merubah gue menjadi lebih dewasa, tapi ada juga sipat kekanakan gue yang ga
bergeser dari posisi teratasnya. Mungkin, karena sipat gue yang egois atau
karena gue belum bisa merubah semua hal yang ada di diri gue. maklum, gue Cuma
manusia biasa. Tempatnya khilaf dan lupa.
Gue juga mau
meminta maaf pada semua orang yang pernah gue sakiti dan gue juga mau berterima
kasih kepada semua orang yang gue sayangi. Semoga doa kalian bisa membawa gue
pada kebahagiaan yang hakiki. Amin.
Pelan-pelan aja
deh, tapi Insha Allah pasti. Setiap orang punya harapan dan impian, kini target
gue di 2012 adalah sbb:
1.
Gue
mau kuliah
2.
Kerja
3.
Jadi
penyiar
4.
Sedikit
ngeluh banyak kerja
5.
Ga mau
terlalu banyak janji. Tapi, gue berusaha jadi yang terbaik untuk Abi dan Awa
serta semuanya
6.
Gue
harus buat Novel minimal 2 buku
7.
Semua
serba baru. Termasuk pasangan baru (waduh, kalo ketauan Abi bisa dipecat gue
jadi ummi nya Awa. Becanda ya, Bi. Hehe..)
Tapi, semua itu hanya target belaka.
Toh, kalo ga kecapai gue udah siapin mental untuk nerima keadaannya. Karena,
sekeras usaha dan seindah rencana tetap Allah yang punya kuasa. Namun,
bagaimanapun bermimpi itu tidaklah dosa. Jadi gue mau tetap berusaha mewujudkan
mimpi dengan tindakan nyata. Semoga berhasil. Tapi, kalo dari sekian banyaknya
harapan gue ga ada yang kecapai. Wah, kebangetan banget hidup gue.
mulai sekarang, gue juga akan jadikan pengalaman masa lalu gue sebagai jembatan untuk memotivasi diri menuju arah perbaikkan dan bukan sebagai penghalang masa depan.
mulai sekarang, gue juga akan jadikan pengalaman masa lalu gue sebagai jembatan untuk memotivasi diri menuju arah perbaikkan dan bukan sebagai penghalang masa depan.
Semoga kalian juga sukses!
Semangat!!!
Rabu, 21 Desember 2011
first love (eps. 1)
Masa sekolah adalah masa yang paling indah. Masa, dimana aku memiliki banyak teman. Banyak cerita dan juga ada cinta.
Kunikmati persahabatan kami. mulai dari senang sampai sedih, dari tangis hingga tawa. Mereka memang sahabat yang baik. Mereka selalu bisa memahamiku dan akupun belajar untuk memahami mereka, walau belum bisa sepenuhnya memahami mereka.
Aku bersahabat dengan dua orang teman sekelasku. Namanya Sabrina dan Pithri. Sabrina orangnya cantik dan menarik, tapi ia pemilih dalam segala hal. Berbeda dengan Pithri, ia orang yang netral dan cuek. Kalau aku.. aku adalah orang yang tak pernah bisa mengungkapkan keinginanku kepada orang lain. Hingga akhirnya, aku hanya selalu memendamnya sendiri tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Kami bertiga memang bersahabat, tapi kami berbeda. Baik dari fisik maupun sifat. “Ya jelas lah beda, kita kan bukan anak kembar yang terlahir dari satu rahim yang sama.” Itulah jawaban kami kalau ada yang komentar tentang perbedaan di antara kami.
Suatu ketika. Sabrina di taksir oleh teman sekelas kami juga. Namanya Chandra. Ia adalah ketua kelas kami. orangnya tak terlalu ganteng, tapi cukup tajir. Bahkan, belum jadian dengan Sabrina pun ia selalu mentraktir kami makan di tempat yang spesial.. tak jarang juga, ia memberi kami benda-benda mahal. Seperti gelang tangan, kalung, baju dan lain-lain. Meski sudah sering pula aku dan Pithri menyindirnya dengan kata-kata. “..nyogok kita nih, supaya di comblangin sama Sabrina?”. Tapi jawabannya hanya, “..enggak lah.. gue bukan orang kayak gitu, kali.”
Jawabannya tak kami hiraukan, yang penting pemberiannya. Hehe..
Sebenarnya Sabrina tak suka bila Chandra sering memberi kami ‘sesuatu’. katanya, “kalian kenapa sih, selalu nerima pemberian dari Chandra?” ujarnya ketus.
“kenapa? Iri ya. Bilang aja lo juga mau. Ya kan?” godaku.
Pithri tertawa renyah menanggapi ucapanku. Namun, Sabrina justru marah padaku. Aku jadi tak enak hati dengannya. Lalu, aku coba membujuknya agar ia mau baikkan denganku. Setelah beberapa saat berusaha merayunya dengan iming-iming ku traktir makan mie ayam favorit kami, akhirnya ia luluh juga. Lalu aku berkata. “..tapi, yang bayar Chandra, lho.” Ledekku lagi. Sabrina kembali ngambek. Tapi segera ku ralat kata-kataku. “bercanda, kok.”.
**
Keesokkan paginya. Aku datang ke sekolah terlalu pagi, karena hari ini aku harus menyiapkan data-data untuk di bawa ke rapat Osis, jam pulang sekolah nanti. Tentunya setelah aku konfirmasi ke ketua Osis terlebih dulu. Yaitu, Fadhil. Ia adalah orang yang tegas dan penuh ambisi. Tapi ia bukan orang yang egois. Tak heran bila ia di gemari kaum hawa seantero sekolah kami. pasalnya, selain wajahnya yang tampan. Ia juga menduduki tempat jawara, karena kecerdasannya. Terlebih lagi, kini ia menjabat menjadi ketua Osis. Lengkap sudah kesempurnaanmu, Nak!
Lalu aku menghampiri Fadhil di perpustakaan, karena sebelumnya kami sudah janjian akan bertemu di sana. Lalu, tanpa maksud lain aku segera memberikan dokumen tersebut ke padanya dan segera bergegas pergi.
Tiba-tiba ia memanggilku kembali. “Wulanda!”
Langkahku terhenti. Lalu ku balikan badanku ke arahnya.
Kemudian ia berkata lagi setelah kami saling berpandangan. “..datanya masih ada yang salah. Tolong bantuin gue, perbaikinya ya.” Pintanya santun. Dan ia memang selalu santun dengan siapa pun. Enggak heran deh, kalau aku juga masuk nominasi kategori penggemar beratnya. Tapi, aku jauh lebih beruntung di banding Fans Loversnya Fadhil yang lain. Sebab, aku bisa dekat dengan Fadhil kapan saja di mana saja. Karena aku adalah sekertarisnya.
Hhuuuhf. Baru jadi sekertaris saja, sudah bangga benar.
Lalu aku menganggukkan kepala, mengiyakan. Lalu kami segera mengambil posisi di depan komputer perpustakaan. Lalu tanganku mulai kreatif menekan keyboard, meralat data-data yang salah. Sementara Fadhil yang memberi instruksi.
Makin lama, semakin banyak murid yang sudah berdatangan. Tak sedikit pula Fans Loversnya Fadhil masuk ke dalam perpustakaan setelah mereka tahu bahwa idolanya ada di dalam.
Aku jadi risih, setelah makin marak cewek-cewek ini tebar pesona dengan idolanya. Tapi, Fadhil tak bergeming. Ia tetap fokus denganku. Eh, maksudnya dengan tugasnya beersamaku.
Banyak yang bilang kalau sebenarnya aku punya banyak ke sempatan untuk bisa jadi pacarnya Fadhil karena kami sering bertemu dan bertukar pikiran. Ada juga yang bilang, kalau seandainya aku bisa lebih agresif lagi, seperti para Fansnya, maka pasti Fadhil akan tertarik denganku. Tapi, aku hanya bisa berkata. “maaf, ya. gue bukan cewek seperti itu.” Sangkalku. Padahal, kalau boleh jujur. Sebenarnya aku mau banget melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi, inilah aku. aku orang yang pasif dan ga bisa mengungkapkan apa yang ku inginkan.
Akhirnya, kami sudah menyelesaikan data-data tersebut.
“terima kasih ya, Wulanda.” ujarnya dengan senyuman manis.
“iya, sama-sama.” Jawabku dengan senyum simpul menahan deg-degan yang sudah dari tadi ku rasakan mulai dari pertama bertemu dengannya.
Padahal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya. Tapi, entah mengapa aku selalu kena demam Fadhil setiap kali bertemu dengannya.
“Ya Allah. Semoga ini bukan pertanda buruk untukku. Aamiin.”
**
Sepulang sekolah. Para anggota Osis berkumpul di ruang Osis untuk melaksanakan rapat mengenai artikel sekolah yang akan di luncurkan seminggu lagi.
Chandra, yang juga teman sekelasku sekaligus ke tua kelasku. Ia bertugas membuat artikel tersebut yang bertemakan ‘seks bebas di kalangan remaja’. Namun, hingga kini artikel tersebut belum juga selesai.
“kenapa belum lo selesai’in?” tanya Fadhil tegas.
Lalu. Belum sempat Chandra menjawab. Tiba-tiba Pithri nyeletuk. “kebanyakan mikirin Sabrina, sih!”
Semua yang berada di ruang rapat, kontan menyoraki Chandra menimpali ucapan Pithri. Kecuali Sabrina yang merengut.
“ah. Enggak, juga.” Sangkal Chandra dengan muka memerah karena malu.
“terus, kenapa belum di serahin ke gue?” tanya Fadhil lagi.
“ya udah. Gue minta waktu satu hari lagi. Pasti gue serahin ke lo.” Katanya yakin.
Fadhil menghela nafas dan berpikir sejenak sebelum berkata. “tapi, kalo sampai lo ga selesaikan artikelnya, gue akan kasih lo sangsi!” ancem Fadhil tak main-main.
“iya..” jawab Chandra, sedikit gentar.
Rapat break.
Di sela-sela break. Tiba-tiba Agustin heboh dengan cerita barunya yang ia kutip dari sebuah radio. Lalu Agustin berkata. “eh, mau denger cerita lucu ga?” tanyanya ke seluruh anggota rapat.
“mau dong.” Sahut Pitri dan Sabrina nyaris berbarengan. Mereka berdua sudah sering mendengar cerita lucu dari Agustin yang mampu memancing gelak tawa mereka. makanya, saat Agustin menawari mereka untuk mendengarkan ceritanya, lantas saja mereka penasaran.
Sementara yang lain tak menjawab. Tapi, masing-masing mereka menyiratkan keinginan untuk mendengarkannya juga.
Agustin memulai ceritanya. “..suatu hari, pada jaman nabi Sulaiman. Waktu para binatang masih bisa bicara. Ada seekor tikus dan Emak tikus lagi jalan di pinggir got..” cerita Agustin terputus karena Lalang keburu nyamber kata-katanya.
“..emang jaman dulu ada got?” selak Lalang.
Yang lain tertawa kecil mendengar pertanyaan Lalang yang meledek.
“udah, sih. Anggap aja ada.” Sahut Agustin nyolot sambil tertawa mmengekeh kecil. Lalu Agustin kembali bercerita. Katanya, “..mereka jalan sambil cerita. Tiba-tiba, di atas kepala mereka ada seekor kelelawar yang terbang.” Kata Agustin sambil menirukan kelelawar terbang dengan menggunakan tangannya seraya menirukan suara kelelawar tersebut. “Weng..”
“boleh request ga?” protes Lalang lagi. “suara kelelawarnya jangan ‘weng’ dong! Ga enak banget di dengernya.”
Yang lain jadi tertawa mengikik mendengar ucapan Lalang. agustin merengut, karena sejak tadi ia selalu di protes oleh temannya yang nyebelin ini. lalang memang orang yang super duper nyebelin. Pasalnya, ia suka menjaili teman-temannya yang lain, terutama Agustin.
“udah sih, Lang. Jangan protes melulu!” gertak Agustin, namun dengan tawa pula. Karena ia juga menyadari bahwa suara kelelawar yang ia ciptakan itu memang aneh.
“bukannya, gitu. Masalahnya nanti kalo gue mau cerita lagi ke orang, masa suara kelelawarnya bunyinya ‘weng!’?” goda Lalang lagi.
Yang lain tertawa lagi.
“weng!” ledek Lalang lagi meniru gaya Agustin sebelumnya saat ia menirukan kelelawar terbang. Yang lain kembali tertawa menimpali gurauan Lalang.
“Lang! Ga gue lanjutin lagi nih!” kata Agustin ngambek.
“orang, tadi ada kelelawar lewat.” Ledek Lalang tak henti-henti.
Yang lain tertawa kecil lagi menimpali guyonan Lalang.
Lalu Agustin pun melanjutkan ceritanya. Sementara yang lain menyimaknya dengan seksama. Lalang pun tak berkomentar apa-apa lagi sampai Agustin selesai bercerita. Agustin berkata. “terus, si tikus nanya sama emak tikus. Katanya, “mak, mak. Barusan apaan yang lewat di atas kepala kita, mak?”. Terus emaknya, ngejawab. “oh, itu namanya kelelawar, nak.” Terus si tikus bertanya lagi sama emaknya. “mak, mak. Tapi kok, mukanya mirip kita sih?” terus emaknya menjawab. “iya, nak. Sebenernya kelelawar itu masih sodara sama kita. Cuma waktu dia sekolah, dia ngambil jurusan penerbangan.” Cerita Agustin.
Lalu yang lain tertawa biasa. Kemudian, terdengar suara Fadhil berkata. “udah, Cuma gitu doang ceritanya?” tanya Fadhil karena tak puas dengan ending ceritanya.
Kemudian Lalang berkata. “sebenernya, masih ada lanjutannya lagi.”
Yang lain heran. Termasuk Agustin. Lalu Agustin berkata, “udah habis kali ceritanya.”
“iih, ga percaya. Kan, terus si tikusnya ngomong lagi sama emaknya. Katanya, “Mak, untung ya aku sekolahnya ga ngambil jurusan penerbangan.”
“kok bisa? Kenapa?” sekarang giliran Agustin yang protes.
Lalu di jawab oleh Lalang. “iya, soalnya kalau aku sekolah jurusan penerbangan, nanti terbangnya bunyinya ‘weng!” ledek Lalang setengah tertawa, masih dengan topik awal sewaktu Agustin menirukan suara kelelawar dengan suara dan kata-kata yang aneh.
Yang lain tertawa terbahak. Tak terkecuali Agustin.
“sarap lo!” semprot Agustin.
**
Usai rapat Osis. Aku dan Pithri bergegas pulang. namun, sejak tadi kami tak melihat Sabrina.
“Sabrina kemana ya?” tanyaku pada Pitrhi sambil celingukkan mencari sosok Sabrina.
“kayaknya, tadi masih di ruang rapat deh.” Sahut Pithri.
Lalu kami memutuskan untuk menunggu Sabrina. Tapi, sudah setengah jam berlalu ia belum juga muncul-muncul di depan kami. Lalu aku berinisiatif untuk menelponnya.
“hallo..” sapa Sabrina setelah mengangkat telepon dariku.
“..lo dimana?” tanyaku, masih sambil celingukkan.
“eh, sorry. Gue udah nyampe rumah. Tadi gue pulang di anterin Fadhil.” Jawabnya dengan nada senang tanpa rasa bersalah.
Mendengar hal itu. Aku tak menjawab dan tak berkata apapun lagi. Aku lantas saja memutus hubungan teleponku.
“kenapa, Lan?”
“dia udah pulang.” jawabku dengan roman kesal.
“iih, ngeselin banget ya. Kita udah capek-capek nungguin, malah di tinggalin!” dumel Pithri sewot.
Lalu aku dan Pithri segera meninggalkan sekolah dan kemballi ke rumah masing-masing.
Aku kesal, bukan karena Sabrina meninggalkan kami tanpa pamit terlebih dulu. Tapi aku jadi marah saat ia bilang kalau ia pulang di hantar oleh Fadhil.
Harusnya, aku tak boleh marah. Lagi pula, Fadhil bukan siapa-siapa aku. ya kan?
Ga tahu kenapa, belakangan ini aku jadi sering cemburu kalau Fadhil dekat dengan cewek lain. Padahal sebelumnya, aku selalu bersikap biasa saja layaknya Fans Loversnya yang lain, yang selalu mengelu-elukannya. Tapi kini, aku jadi sering mikirin dan kebayang-bayang dia, bahkan pernah sampai ke bawa mimpi.
Ya Ampun! Wajarkah ini?
Beberapa menit kemudian setelah aku sampai di rumah. Sabrina menelponku. Ia meminta maaf padaku karena telah meninggalkanku dan juga Pithri. Tanpa panjang lebar, aku langsung saja memafkannya. Kemudian, karena rasa penasaranku aku memberanikan diri untuk bertanya padanya mengenai hubungannya dengan Fadhil.
Lalu ia menjawab. “gue lagi pendekatan..”
Oh, ya ampun. Aku lemas mendengarnya. Jujur saja, kalau aku di suruh untuk bersaing dengan Sabrina nyaliku sudah ciut duluan. Secara, dia adalah cewek tenar dengan kecantikan luar biasa dan anggun pula serta lemah lembut, tentunya percaya diri tinggi. Terlebih lagi ia adalah ketua kelompok Chiliders. Ekskul terpopuler di sekolah kami. sedangkan aku, aku hanya anggota Chiliders dan aku mungkin bukan orang yang menarik.
Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)