Rabu, 05 September 2012

suka duka jadi guru


Sebagai guru, aku dituntut untuk bisa memahami dan mendidik anak-anak murid dengan berbagai sifat dan kemampuan anak tersebut. Ada murid yang cerdas, mudah di arahkan, hiper aktif, pasif, agresif. Hal itu membuat ku terkadang menjadi stres dan tak terkendali.
Serumit inikah menjadi seorang guru? Jawabnya tentu saja iya. Saat menghadapi anak yang cerdas, penurut dan mudah mencerna apa yang disampaikan, hal itu akan menjadi kebanggaan tersendiri dan tentu pula aku tidak perlu repot-repot mengulang apa yang ku sampaikan. Namun, saat sangat merepotkan dan makan hati. tapi, itulah suka dukanya mengajar anak-anak TPA.
Aku mulai menikmatinya dan banyak belajar dari mereka. bahwa, kehidupan anak-anak itu adalah bermain. Kehendak mereka tidak bisa dipaksakan. Karena mereka belum bisa memahami apa yang dialami dan diingini oleh orang dewasa. Oleh sebab itu, aku mencoba memasuki dunia mereka untuk bisa bersatu dengan mereka serta bisa memahami apa yang mereka inginkan sehingga apa yang akan dan telah ku sampaikan, bisa dicernanya dengan baik dan mudah.
Cara menghadapi anak yang terlalu banyak inter mizo (istirahat):
Aku memiliki murid yang bisa dibilang dia tidak memiliki tanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai murid. Misalnya, saat diminta untuk menulis maka ia menawarnya. (tolong kerjakan hal 1 dari no 1 sampai no 5. Lalu ia menawarnya dengan berkata “nulisnya sampai 3 aja ya,  bu?”). huuuuufffhhh... dasar anak-anak, memangnya dia pikir di pasar apa? Hehehe.
Lalu terkadang aku memakluminya, tapi aku juga lebih sering memberikan pengertian kepadanya bahwa tugas itu adalah kewajibannya yang tidak boleh diabaikan atau ditawar-tawar. Tugas itu, nantinya akan membantu menambah nilai kalian dan akan membuat kalian makin pintar.
Anak yang kebanyakan istirahat dalam mengerjakan tugasnya, seperti saat diminta untuk menulis apa yang ditulis oleh guru dipapan tulis, ia kebanyakan bengong atau bermain.
Seperti aku menuliskan sebuah kata “aku sayang mama”. Si anak tersebut, menulisnya perhuruf atau perkata, namun lebih sering berhentinya atau istirahatnya atau bermainnya. Sehingga terkesan nulisnya lama. Untuk menghadapi anak yang seperti ini, aku selalu mengingatkannya serta memberikan pengertian agar ia tahu kewajibannya yang harus diselesaikan. Aku berkata padanya “..kalau kamu nulisnya lama, nanti kamu bisa tidak naik kelas lho.” Dengan nada penuh cinta, jangan dibentak!. Tatap matanya penuh kasih dan perhatian. Alhamdulillah, anak itu mulai bisa menyadari tanggung jawabnya.

Selasa, 04 September 2012

mendirikan TPA FATAWA dirumah kontrakan


Bismillah........
Atas usulan tetangga dekat, aku dan suami jadi membuka TPA (taman pendidikan al-quran) di rumah. Meski rumahnya masih ngontrak,, tapi alhamdulillah mereka semua merasa nyaman.
Dimulai dari tgl 08-02-2010, dengan jumlah santri 9 orang. Hingga kini per 2012 santri mencapai 30 orang. Alhamdulillah...... walau kadang anak-anak ada yang perebutan tempat duduk karena rumahnya sempit.
Sempat kepikiran untuk cari donatur yang mau membangun tempat untuk TPA kami. tapi, siapa??? Untuk sekarang, kami sudah cukup menikmati proses belajar dan mengajar di TPA FATAWA di rumah kami yang mungil ini.
Kami tidak mempersoalkan biaya apapun. Kami tidak mewajibkan santri untuk membayar iuran apapun. Tetapi, banyak juga dari mereka yang memberikan iuran bulanan kepada kami. sebagai rasa terima kasih kami atas kepercayaan mereka, kami akan memberikan yang terbaik untuk mereka dengan segala kemampuan yang kami miliki. Kami juga hampir selalu memberikan baik berupa uang, hadiah maupun buku dll sebagai alat pendukung dan penyemangat belajar mereka. sebab, saat ini pengajian sering dianggap tidak penting dibandingkan sekolah formal dan bimbingan belajar. Padahal persepsi itu keliru. Namun, bukan berarti sekolah itu tidak penting. Melainkan, kita harus pintar mendidik anak kita dengan dasar agama pula. Bukankah memperdalam ajaran agama itu lebih penting????
Karena setelah meninggal dunia, maka amalan kita akan terputus. Kecuali 3 hal yaitu, ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir pahalanya dan doa anak yang sholeh.
Meskipun seluruh dunia mendoakan orang yang sudah meninggal, tapi tetap saja doa yang sampai itu adalah doa dari anaknya sendiri. Lalu bagaimana seorang anak bisa mendoakan orang tuanya jika ia tidak diajarkan untuk mengenal agamanya sendiri?
Jadi, marilah para orang tua. Kita bersama mendidik anak-anak kita dengan pondasi agama.


Minggu, 01 Januari 2012

target gue di tahun 2012?


Alhamdulillah, usai sudah tahun 2011..
Di tahun 2011 silam, gue banyak belajar dari keseharian gue dan lingkungan. Banyak hal yang merubah gue menjadi lebih dewasa, tapi ada juga sipat kekanakan gue yang ga bergeser dari posisi teratasnya. Mungkin, karena sipat gue yang egois atau karena gue belum bisa merubah semua hal yang ada di diri gue. maklum, gue Cuma manusia biasa. Tempatnya khilaf dan lupa.
Gue juga mau meminta maaf pada semua orang yang pernah gue sakiti dan gue juga mau berterima kasih kepada semua orang yang gue sayangi. Semoga doa kalian bisa membawa gue pada kebahagiaan yang hakiki. Amin.
Pelan-pelan aja deh, tapi Insha Allah pasti. Setiap orang punya harapan dan impian, kini target gue di 2012 adalah sbb:
1.        Gue mau kuliah
2.        Kerja
3.        Jadi penyiar
4.        Sedikit ngeluh banyak kerja
5.        Ga mau terlalu banyak janji. Tapi, gue berusaha jadi yang terbaik untuk Abi dan Awa serta semuanya
6.        Gue harus buat Novel minimal 2 buku
7.        Semua serba baru. Termasuk pasangan baru (waduh, kalo ketauan Abi bisa dipecat gue jadi ummi nya Awa. Becanda ya, Bi. Hehe..)

Tapi, semua itu hanya target belaka. Toh, kalo ga kecapai gue udah siapin mental untuk nerima keadaannya. Karena, sekeras usaha dan seindah rencana tetap Allah yang punya kuasa. Namun, bagaimanapun bermimpi itu tidaklah dosa. Jadi gue mau tetap berusaha mewujudkan mimpi dengan tindakan nyata. Semoga berhasil. Tapi, kalo dari sekian banyaknya harapan gue ga ada yang kecapai. Wah, kebangetan banget hidup gue.
mulai sekarang, gue juga akan jadikan pengalaman masa lalu gue sebagai jembatan untuk memotivasi diri menuju arah perbaikkan dan bukan sebagai penghalang masa depan.
Semoga kalian juga sukses! Semangat!!!

Rabu, 21 Desember 2011

first love (eps. 1)


 Masa sekolah adalah masa yang paling indah. Masa, dimana aku memiliki banyak teman. Banyak cerita dan juga ada cinta.
Kunikmati persahabatan kami. mulai dari senang sampai sedih, dari tangis hingga tawa. Mereka memang sahabat yang baik. Mereka selalu bisa memahamiku dan akupun belajar untuk memahami mereka, walau belum bisa sepenuhnya memahami mereka.
Aku bersahabat dengan dua orang teman sekelasku. Namanya Sabrina dan Pithri. Sabrina orangnya cantik dan menarik, tapi ia pemilih dalam segala hal. Berbeda dengan Pithri, ia orang yang netral dan cuek. Kalau aku.. aku adalah orang yang tak pernah bisa mengungkapkan keinginanku kepada orang lain. Hingga akhirnya, aku hanya selalu memendamnya sendiri tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Kami bertiga memang bersahabat, tapi kami berbeda. Baik dari fisik maupun sifat. “Ya jelas lah beda, kita kan bukan anak kembar yang terlahir dari satu rahim yang sama.” Itulah jawaban kami kalau ada yang komentar tentang perbedaan di antara kami.
Suatu ketika. Sabrina di taksir oleh teman sekelas kami juga. Namanya Chandra. Ia adalah ketua kelas kami. orangnya tak terlalu ganteng, tapi cukup tajir. Bahkan, belum jadian dengan Sabrina pun ia selalu mentraktir kami makan di tempat yang spesial.. tak jarang juga, ia memberi kami benda-benda mahal. Seperti gelang tangan, kalung, baju dan lain-lain. Meski sudah sering pula aku dan Pithri menyindirnya dengan kata-kata. “..nyogok kita nih, supaya di comblangin sama Sabrina?”. Tapi  jawabannya hanya, “..enggak lah.. gue bukan orang kayak gitu, kali.”
Jawabannya tak kami hiraukan, yang penting pemberiannya. Hehe..
Sebenarnya Sabrina tak suka bila Chandra sering memberi kami ‘sesuatu’. katanya, “kalian kenapa sih, selalu nerima pemberian dari Chandra?” ujarnya ketus.
“kenapa? Iri ya. Bilang aja lo juga mau. Ya kan?” godaku.
Pithri tertawa renyah menanggapi ucapanku. Namun, Sabrina justru marah padaku. Aku jadi tak enak hati dengannya. Lalu, aku coba membujuknya agar ia mau baikkan denganku. Setelah beberapa saat berusaha merayunya dengan iming-iming ku traktir makan mie ayam favorit kami, akhirnya ia luluh juga. Lalu aku berkata. “..tapi, yang bayar Chandra, lho.” Ledekku lagi. Sabrina kembali ngambek. Tapi segera ku ralat kata-kataku. “bercanda, kok.”.
**
Keesokkan paginya. Aku datang ke sekolah terlalu pagi, karena hari ini aku harus menyiapkan data-data untuk di bawa ke rapat Osis, jam pulang sekolah nanti. Tentunya setelah aku konfirmasi ke ketua Osis terlebih dulu. Yaitu, Fadhil. Ia adalah orang yang tegas dan penuh ambisi. Tapi ia bukan orang yang egois. Tak heran bila ia di gemari kaum hawa seantero sekolah kami. pasalnya, selain wajahnya yang tampan. Ia juga menduduki tempat jawara, karena kecerdasannya. Terlebih lagi, kini ia menjabat menjadi ketua Osis. Lengkap sudah kesempurnaanmu, Nak!
Lalu aku menghampiri Fadhil di perpustakaan, karena sebelumnya kami sudah janjian akan bertemu di sana. Lalu, tanpa maksud lain aku segera memberikan dokumen tersebut ke padanya dan segera bergegas pergi.
Tiba-tiba ia memanggilku kembali. “Wulanda!”
Langkahku terhenti. Lalu ku balikan badanku ke arahnya.
Kemudian ia berkata lagi setelah kami saling berpandangan. “..datanya masih ada yang salah. Tolong bantuin gue, perbaikinya ya.” Pintanya santun. Dan ia memang selalu santun dengan siapa pun. Enggak heran deh, kalau aku juga masuk nominasi kategori penggemar beratnya. Tapi, aku jauh lebih beruntung di banding Fans Loversnya Fadhil yang lain. Sebab, aku bisa dekat dengan Fadhil kapan saja di mana saja. Karena aku adalah sekertarisnya.
Hhuuuhf. Baru jadi sekertaris saja, sudah bangga benar.
Lalu aku menganggukkan kepala, mengiyakan. Lalu kami segera mengambil posisi di depan komputer perpustakaan. Lalu tanganku mulai kreatif menekan keyboard, meralat data-data yang salah. Sementara Fadhil yang memberi instruksi.
Makin lama, semakin banyak murid yang sudah berdatangan. Tak sedikit pula Fans Loversnya Fadhil masuk ke dalam perpustakaan setelah mereka tahu bahwa idolanya ada di dalam.
Aku jadi risih, setelah makin marak cewek-cewek ini tebar pesona dengan idolanya. Tapi, Fadhil tak bergeming. Ia tetap fokus denganku. Eh, maksudnya dengan tugasnya beersamaku.
Banyak yang bilang kalau sebenarnya aku punya banyak ke sempatan untuk bisa jadi pacarnya Fadhil karena kami sering bertemu dan bertukar pikiran. Ada juga yang bilang, kalau seandainya aku bisa lebih agresif lagi, seperti para Fansnya, maka pasti Fadhil akan tertarik denganku. Tapi, aku hanya bisa berkata. “maaf, ya. gue bukan cewek seperti itu.” Sangkalku. Padahal, kalau boleh jujur. Sebenarnya aku mau banget melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi, inilah aku. aku orang yang pasif dan ga bisa mengungkapkan apa yang ku inginkan.
Akhirnya, kami sudah menyelesaikan data-data tersebut.
“terima kasih ya, Wulanda.” ujarnya dengan senyuman manis.
“iya, sama-sama.” Jawabku dengan senyum simpul menahan deg-degan yang sudah dari tadi ku rasakan mulai dari pertama bertemu dengannya.
Padahal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya. Tapi, entah mengapa aku selalu kena demam Fadhil setiap kali bertemu dengannya.
“Ya Allah. Semoga ini bukan pertanda buruk untukku. Aamiin.”
                                         **

Sepulang sekolah. Para anggota Osis berkumpul di ruang Osis untuk melaksanakan rapat mengenai artikel sekolah yang akan di luncurkan seminggu lagi.
Chandra, yang juga teman sekelasku sekaligus ke tua kelasku. Ia bertugas membuat artikel tersebut yang bertemakan ‘seks bebas di kalangan remaja’. Namun, hingga kini artikel tersebut belum juga selesai.
“kenapa belum lo selesai’in?” tanya Fadhil tegas.
Lalu. Belum sempat Chandra menjawab. Tiba-tiba Pithri nyeletuk. “kebanyakan mikirin Sabrina, sih!”
Semua yang berada di ruang rapat, kontan menyoraki Chandra menimpali ucapan Pithri. Kecuali Sabrina yang merengut.
“ah. Enggak, juga.” Sangkal Chandra dengan muka memerah karena malu.
“terus, kenapa belum di serahin ke gue?” tanya Fadhil lagi.
“ya udah. Gue minta waktu satu hari lagi. Pasti gue serahin ke lo.” Katanya yakin.
Fadhil menghela nafas dan berpikir sejenak sebelum berkata. “tapi, kalo sampai lo ga selesaikan artikelnya, gue akan kasih lo sangsi!” ancem Fadhil tak main-main.
“iya..” jawab Chandra, sedikit gentar.
Rapat break.
Di sela-sela break. Tiba-tiba Agustin heboh dengan cerita barunya yang ia kutip dari sebuah radio. Lalu Agustin berkata. “eh, mau denger cerita lucu ga?” tanyanya ke seluruh anggota rapat.
“mau dong.” Sahut Pitri dan Sabrina nyaris berbarengan. Mereka berdua sudah sering mendengar cerita lucu dari Agustin yang mampu memancing gelak tawa mereka. makanya, saat Agustin menawari mereka untuk mendengarkan ceritanya, lantas saja mereka penasaran.
Sementara yang lain tak menjawab. Tapi, masing-masing mereka menyiratkan keinginan untuk mendengarkannya juga.
Agustin memulai ceritanya. “..suatu hari, pada jaman nabi Sulaiman. Waktu para binatang masih bisa bicara. Ada seekor tikus dan Emak tikus lagi jalan di pinggir got..” cerita Agustin terputus karena Lalang keburu nyamber kata-katanya.
“..emang jaman dulu ada got?” selak Lalang.
Yang lain tertawa kecil mendengar pertanyaan Lalang yang meledek.
“udah, sih. Anggap aja ada.” Sahut Agustin nyolot sambil tertawa mmengekeh kecil. Lalu Agustin kembali bercerita. Katanya, “..mereka jalan sambil cerita. Tiba-tiba, di atas kepala mereka ada seekor kelelawar yang terbang.” Kata Agustin sambil menirukan kelelawar terbang dengan menggunakan tangannya seraya menirukan suara kelelawar tersebut. “Weng..”
“boleh request ga?” protes Lalang lagi. “suara kelelawarnya jangan ‘weng’ dong! Ga enak banget di dengernya.”
Yang lain jadi tertawa mengikik mendengar ucapan Lalang. agustin merengut, karena sejak tadi ia selalu di protes oleh temannya yang nyebelin ini. lalang memang orang yang super duper nyebelin. Pasalnya, ia suka menjaili teman-temannya yang lain, terutama Agustin.
“udah sih, Lang. Jangan protes melulu!” gertak Agustin, namun dengan tawa pula. Karena ia juga menyadari bahwa suara kelelawar yang ia ciptakan itu memang aneh.
“bukannya, gitu. Masalahnya nanti kalo gue mau cerita lagi ke orang, masa suara kelelawarnya bunyinya ‘weng!’?” goda Lalang lagi.
Yang lain tertawa lagi.
“weng!” ledek Lalang lagi meniru gaya Agustin sebelumnya saat ia menirukan kelelawar terbang. Yang lain kembali tertawa menimpali gurauan Lalang.
“Lang! Ga gue lanjutin lagi nih!” kata Agustin ngambek.
“orang, tadi ada kelelawar lewat.” Ledek Lalang tak henti-henti.
Yang lain tertawa kecil lagi menimpali guyonan Lalang.
Lalu Agustin pun melanjutkan ceritanya. Sementara yang lain menyimaknya dengan seksama. Lalang pun tak berkomentar apa-apa lagi sampai Agustin selesai bercerita. Agustin berkata. “terus, si tikus nanya sama emak tikus. Katanya, “mak, mak. Barusan apaan yang lewat di atas kepala kita, mak?”. Terus emaknya, ngejawab. “oh, itu namanya kelelawar, nak.” Terus si tikus bertanya lagi sama emaknya. “mak, mak. Tapi kok, mukanya mirip kita sih?” terus emaknya menjawab. “iya, nak. Sebenernya kelelawar itu masih sodara sama kita. Cuma waktu dia sekolah, dia ngambil jurusan penerbangan.” Cerita Agustin.
Lalu yang lain tertawa biasa. Kemudian, terdengar suara Fadhil berkata. “udah, Cuma gitu doang ceritanya?” tanya Fadhil karena tak puas dengan ending ceritanya.
Kemudian Lalang berkata. “sebenernya, masih ada lanjutannya lagi.”
Yang lain heran. Termasuk Agustin. Lalu Agustin berkata, “udah habis kali ceritanya.”
“iih, ga percaya. Kan, terus si tikusnya ngomong lagi sama emaknya. Katanya, “Mak, untung ya aku sekolahnya ga ngambil jurusan penerbangan.”
“kok bisa? Kenapa?” sekarang giliran Agustin yang protes.
Lalu di jawab oleh Lalang. “iya, soalnya kalau aku sekolah jurusan penerbangan, nanti terbangnya bunyinya ‘weng!” ledek Lalang setengah tertawa, masih dengan topik awal sewaktu Agustin menirukan suara kelelawar dengan suara dan kata-kata yang aneh.
Yang lain tertawa terbahak. Tak terkecuali Agustin.
“sarap lo!” semprot Agustin.
                                                     **

Usai rapat Osis. Aku dan Pithri bergegas pulang. namun, sejak tadi kami tak melihat Sabrina.
“Sabrina kemana ya?” tanyaku pada Pitrhi sambil celingukkan mencari sosok Sabrina.
“kayaknya, tadi masih di ruang rapat deh.” Sahut Pithri.
Lalu kami memutuskan untuk menunggu Sabrina. Tapi, sudah setengah jam berlalu ia belum juga muncul-muncul di depan kami. Lalu aku berinisiatif untuk menelponnya.
“hallo..” sapa Sabrina setelah mengangkat telepon dariku.
“..lo dimana?” tanyaku, masih sambil celingukkan.
“eh, sorry. Gue udah nyampe rumah. Tadi gue pulang di anterin Fadhil.” Jawabnya dengan nada senang tanpa rasa bersalah.
Mendengar hal itu. Aku tak menjawab dan tak berkata apapun lagi. Aku lantas saja memutus hubungan teleponku.
“kenapa, Lan?”
“dia udah pulang.” jawabku dengan roman kesal.
“iih, ngeselin banget ya. Kita udah capek-capek nungguin, malah di tinggalin!” dumel Pithri sewot.
Lalu aku dan Pithri segera meninggalkan sekolah dan kemballi ke rumah masing-masing.
Aku kesal, bukan karena Sabrina meninggalkan kami tanpa pamit terlebih dulu. Tapi aku jadi marah saat ia bilang kalau ia pulang di hantar oleh Fadhil.
Harusnya, aku tak boleh marah. Lagi pula, Fadhil bukan siapa-siapa aku. ya kan?
Ga tahu kenapa, belakangan ini aku jadi sering cemburu kalau Fadhil dekat dengan cewek lain. Padahal sebelumnya, aku selalu bersikap biasa saja layaknya Fans Loversnya yang lain, yang selalu mengelu-elukannya. Tapi kini, aku jadi sering mikirin dan kebayang-bayang dia, bahkan pernah sampai ke bawa mimpi.
Ya Ampun! Wajarkah ini?
Beberapa menit kemudian setelah aku sampai di rumah. Sabrina menelponku. Ia meminta maaf padaku karena telah meninggalkanku dan juga Pithri. Tanpa panjang lebar, aku langsung saja memafkannya. Kemudian, karena rasa penasaranku aku memberanikan diri untuk bertanya padanya mengenai hubungannya dengan Fadhil.
Lalu ia menjawab. “gue lagi pendekatan..”
Oh, ya ampun. Aku lemas mendengarnya. Jujur saja, kalau aku di suruh untuk bersaing dengan Sabrina nyaliku sudah ciut duluan. Secara, dia adalah cewek tenar dengan kecantikan luar biasa dan anggun pula serta lemah lembut, tentunya percaya diri tinggi. Terlebih lagi ia adalah ketua kelompok Chiliders. Ekskul terpopuler di sekolah kami. sedangkan aku, aku hanya anggota Chiliders dan aku mungkin bukan orang yang menarik.

                                         Bersambung


 

Selasa, 20 Desember 2011

Rahasia di balik kuasa Allah


            Hari ini, kami sekeluarga berbahagia. Karena ibu kami telah melahirkan bayi mungil yang kelak akan menjadi adik bungsuku. Namun, beberapa menit kemudian setelah melahirkan adikku. Ibuku mengalami pendarahan hebat hingga tak bisa tertolong lagi nyawanya. Kabar yang semula bahagia ini, kini berubah menjadi isakan tangis memilukan. Ibu telah meninggal dunia. Meninggalkan ayah, aku dan kedua adikku.
Kami menangis sejadi-jadinya. Pikirku, tak apa bila ibu meninggalkanku. Tapi, bagaimana dengan kedua adikku yang masih kecil-kecil. Apalagi, satu adikku baru saja terlahir dengan harapan besar. Pastinya, ia lah yang paling membutuhkan kasih sayang ibuku saat ini.
Lalu, semeninggalnya ibuku. Ayah, aku dan adikku yang masih duduk di sekolah dasar kelas 3 ini, saling bahu membahu mengurus rumah dan adik bayi kami.
Setiap pagi, ayah berangkat kerja berbarengan dengan adikku yang di sekolah dasar. Sementara aku, merapihkan rumah dan mengasuh adikku yang masih bayi. Siang harinya, setelah adikku pulang sekolah, kini giliranku yang berangkat sekolah. Untunglah sekolah kami tak jauh dari rumah, sehingga kami tak pernah telat ke sekolah. Namun, sebelum aku berangkat sekolah, aku selalu menyiapkan makan siang untuk adikku. Aku pun tak lupa mengajarkan adikku untuk membuat susu untuk adik bayi kami.
Sebenarnya, aku tak tega meninggalkan adik-adikku di rumah. Tapi, apa boleh buat. Kami tak punya saudara dekat yang bisa membantu pekerjaan kami, terlebih lagi kami hanya orang biasa yang tak mampu membayar pembantu.
Setiap hari, aku selalu di liputi rasa khawatir bila aku meninggalkan mereka untuk ke sekolah. Tapi, apabila sudah pukul 16.00. rasa khawatirku berkurang. Karrena biasanya ayah sudah pulang kerja dan adik-adikku tak sendirian lagi.
Setiap malam, ayah yang menjaga adik bayi kami. Suatu malam, adik kami menangis meminta susu. Lalu ayahku terbangun dan langsung membuatkan susu. Biasanya, kalau ayah membuat susu di tengah malam, aku selalu bangun untuk memnjaga adik bayi. Tapi, malam itu aku sangat mengantuk. Jadi ku biarkan saja adikku sendirian di kamar ayah.
Usai membuatkan susu untuk adik. Ayah langsung masuk ke kamar. Kemudian aku mendengar teriakkan ayah yang terdengar sangat kaget. “Astaghfirullahaladzim!!”
Mendengar teriakkan ayah, aku dan adikku lantas bangun dan menghampiri ayah. Setelah ku tanya. “ada apa, yah?”
Lalu ayah menjawab. “ga ada apa-apa, sayang.” Katanya menenangkan kami. “kalian tidur lagi ya!” ujar ayahku penuh cinta.
**
Suatu hari, aku tak sempat membuatkan makanan untuk adikku. Lalu, aku lupa memberitahukannya bahwa hari ini aku tak membuatkan makanan untuknya.
Setibanya di sekolah aku baru mengingatnya. “ya Allah. Aku lupa memberitahunya. Bagaimana ini? pasti dia lapar..” kataku dengan hati miris. Sepanjang hari, selama aku masih di sekolah, aku selalu memikirkan ke adaan adikku. Tapi, setelah pukul empat sore, perasaan cemasku hilang. Karena biasanya, ayahku sudah pulang. dan pasti ayah akan membelikan mereka makanan.
**
Gunjang-ganjing, gosip yang beredar semenjak mamaku meninggal. Banyak orang yang bilang, arwah mamaku menjadi gentayangan dan menyerupai kuntilanak yang kerap kali terbang dari pohon ke pohon dan berakhir di pohon depan rumah kami. Kemudian, menangis sedu dan terkadang tertawa cekikikkan. Sehingga, masyarakat di daerah rumah kami tak berani keluar rumah setelah usai adzan maghrib berkumandang. Apalagi, bila harus melewati rumah kami.
Tapi, kami tak lantas mempercayai mereka begitu saja. Mana mungkin, orang yang sudah meninggal bisa menjadi setan? Bukankah, sudah jelas perbedaan antara manusia dan setan?!
Sebenarnya, saat mereka membicarakan mamaku yang berubah menjadi kuntilanak. Aku sangat ingin menampar wajah orang tersebut. Tapi, aku tak boleh terbawa emosi. Aku harus buktikan, bahwa mamaku bukan kuntilanak, seperti yang di bicarakan banyak orang.
Pagi ini, aku sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kebetulan adikku menangis. Namun, ku biarkan ia sejenak karena aku merasa tanggung dengan pekeerjaanku. Tak lama kemudian, adikku berhenti menangis. Biasanya, aku tak lantas melihat keadaan adikku. Tapi, kali ini aku ingin tahu apa yang menyebabkan ia berhenti menangis. Mungkin dia sedang bermain. Pikirku dalam hati.
Setelah ku lihat. “Astaghfirullah!!” gumamku. Jantungku berpacu kencang, lututku menjadi lemas, sekujur tubuhku gemetar. Aku inginn menangis, tapi tak kuasa. Benarkah yang kulihat ini? “mama?” panggilku lirih. Tapi ia tak menoleh ke arahku. Aku benar-benar ingin memeluknya karena terlalu merindukannya. Tapi, kakiku tak sanggup melangkah. Beberapa saat kemudian, mamaku menaruh adik bayiku di kasurnya lagi. Lalu pergi lewat jendela kamar dan menghilang entah kemana.
Setelah mamaku pergi, aku baru bisa menggerakkan tubuhku dan menghampiri adikku. Lantas ku peluk ia dan ku ciumi. “sayang.. apa selama ini, mama yang selalu jaga kamu?” kataku dengan air mata berlinang. “.maafin kakak ya..” ujarku tak kuasa menahan isak tangis. “terima kasih, mah.” Kataku lagi dengan nada lara.
Setelah kejadian tadi pagi. Malam harinya. Aku menceritakan kejadian yang ku alami pada ayah dan adikku.
Lalu ayah tersenyum sebelum berkata. “sayang, sebenarnya. Waktu malam itu, ketika ayah berteriak dan membuat kalian terbangun. Ayah melihat mama kalian sedang menyusui adik kalian. Dan hal itu terjadi setiap malam.” Cerita ayah. “kalian jangan takut ya. Mungkin, mama kalian merasa masih punya tanggung jawab yang harus di selesaikan dan mama kalian meminta ijin pada Allah untuk bisa melaksanakannya. Itu juga pertanda bahwa mama sayang kita semua.” Kata ayah membuat kami tenang.
Lalu adikku berkata. “aku juga sering liat mama, kalau aku dirumah Cuma berdua aja sama adik. Kadang-kadang, mama juga masakin buat kita kalau kakak ga masak”
Lalu aku dan ayah tercengang. “berarti, makanan-makanan itu mama yang buat?”
“iya.” Jawab adikku pasti.
Lalu aku bertanya pada ayah. “ayah, apa bener kalau orang meninggal karena melahirkan akan menjadi kuntilanak?”
Ayah menghela nafas panjang sebelum menjawab. “ga ada manusia yang setelah meninggal dunia menjadi setan. Apalagi, orang yang meninggal sehabis melahirkan, mereka termasuk orang-orang yang mati syahid atau mati dalam ke adaan di jalan Allah. Mereka itu, telah memiliki tempat khusus di sisi Allah. Dan kalau ada kuntilanak yang mirip dengan orang yang meninggal sehabis melahirkan, itu hanyalah setan yang menyerupainya.”
Mendengar penjelasan ayah, aku dan adikku jadi mengerti. Mulai sekarang, keluarga kami jadi terbiasa dengan ke hadiran mama kami. Meski sudah lain alam, tapi ia tetap mempedulikan kami.
“ya Allah, jadikanlah mama kami, termasuk golongan orang yang mendapat syafaat Rasul mu.” Doa ku.
“Amiiinnnn” sahut ayah dan adikku mengaminkan.