Selasa, 20 Desember 2011

konsultan


      “Sorry, ya. Gue pergi duluan.!” Kata Vita, sahabatku.
Aku menganggukkan kepalaku, mengiyakan. Lalu kami saling mencium pipi dan setelah itu berpisah. Sementara, ia pergi bersama kekasihnya dan aku masih duduk di bangku kantin kampusku.
Sudah sering sahabatku mencurahkan hatinya padaku tentang kisah bahagia dan dukanya bersama kekasihnya. Aku hanya menjadi pendengar setia saja. Tapi terkadang, aku juga memberikan advis untuk memotivasinya. Namun sayangnya, saranku hanya sekedar angin lalu saja baginya.
Pernah suatu hari ia datang padaku sambil menangis tersedu. Ia berkata, “kenapa sih, dia ga pernah ngertiin perasaan gue? Dia selalu aja sibuk sama bola, kuliah, temen-temennya..”
Lalu ku jawab. “makanya, kalau masih pacaran jangan punya perasaan berlebihan!”
“memangnya ga boleh?”
“bukannya ga boleh. Tapi khawatir, kalau seandainya kalian putus dan perasaan itu sudah terlanjur dalam maka nantinya perasaan itu hanya akan menghambat masa depan lo aja!” nasehatku.
“telat, lo ngomongnya. Gue udah terlanjur cinta gila sama dia” sahutnya.
Aku menghela napas panjang, tak berkomentar lagi.
Lalu ia kembali bertanya. “tapi sebenarnya, wajar ga sih kalau dia sibuk sama yang lain dari pada sama gue?”
“wajar aja.” Jawabku.
“tapi bukan berarti menghindarkan?!”
“jelas, menghindar!”
“kok gitu?” tanyanya terkejut.
“karna dia khawatir, kalau kalian sering berduaan maka Iblis akan merasuki dengan membawa persepsi keliru kemudian menghasut dan menyesatkan kalian dengan jalan zinah. Itupun kalau seandainya benar cowok lo adalah cowok yang benar-benar beriman.”
“tapi bukan berarti dia udah ga peduli sama gw kan?!” tanyanya lagi masih penasaran.
“ya enggak lah, sayang. Kalau emang bener, cowok lo seperti yang gue bilang tadi. Berarti, dia emang bener sayang sama lo dan bukan berarti dia udah ga peduli lagi dengan princess nya yang bawel ini, karena itu Cuma bentuk lain dari kehati-hatiannya untuk selalu bisa jaga kehormatan lo.” Mendengar penjelasanku, ia terdiam sejenak sambil berpikir sesuatu. sepertinya ia sudah mulai mengerti.
                                                     ***
Suatu ketika datang lagi seorang temanku. Namanya, Ega. Ia meminta saranku untuk permasalahan yang sedang di hadapinya. Ia mempunyai kekasih yang posesif. Selalu memintanya berubah menjadi yang diinginkan dan selalu ingin memilikinya sepenuhnya.
“Diva, gue BT banget nih.” Curhatnya padaku.
“BT kenapa? Butuh Tatitayang?!” gurauku.
“Iiih, please deh. Jangan becanda!” semprotnya sewot.
Aku tertawa kecil menanggapinya.
“serius nih. Masa sih, dia nyuruh gue pake jilbab..” keluhnya.
Aku terhenyak, lalu tertawa lagi.
“Diva! Gue serius.” Sentaknya.
“iya gue udah tahu.”
“trus, kenapa ketawa-ketiwi aja dari tadi?” dampratnya lagi.
“enggak. Gue Cuma lagi ngebayangin aja kalau lo pake jilbab.” Ejekku.
Ega ngambek. “terus, gw harus gimana?”
Lalu ku jawab. “lo sayang ga sama dia?”
“sayang sih.”
“kok ada ‘sih’ nya?” tanyaku heran.
“habisnya, dia sering minta yang aneh-aneh dari gue. Gue jadi BT.”
“lo turutin permintaannya?”
“kadang-kadang. Kalau permintaannya masuk akal.”
“trus, kalau permintaannya yang sekarang, menurut lo ga masuk akal tapi masuk angin?”
Ega tertawa kecil, kemudian berpikir sejenak. Lalu menjawab. “..gimana ya? Gue pasti ga pantes lah kalau pake jilbab.”
“kata siapa ga pantes? Justru, setiap perempuan itu keliatan cantik kalau pake jilbab.”
“jangan ikut-ikutan kaya cowok gue deh!” sergahnya.
“lho. Gue beneran kok.”
“ya, tapi kenapa lo sendiri ga pake jilbab.?”
“itu dia masalahnya..” ledekku.
Lalu kami saling melemparkan pandangan sejenak. Kemudian tertawa renyah.
“dalam agama kita, sangat dianjurkan menutupi aurat termasuk memakai jilbab. Tapi masalahnya, kita udah siap apa belum?”
“itu dia masalahnya..” ujar Ega meniru ucapanku, yang kemudian mengundang tawa lagi.
“jangan sampai, kita melakukan sesuatu pekerjaan itu bukan karena Allah. Melainkan karena orang lain. Sebab, hal itu bisa membuat Allah cemburu. Lagipula, Cuma Allah yang berhak mendapatkan kerelaan hati kita untuk setiap niat kita.”
“daleeeeem” sahutnya.
“jangan becanda lo! Lagi ngomongon Allah, nih.” Semprotku bergurau.
“eitz. Kan kita ga boleh ngomongin orang. Dosa!”
“Allah kan bukan orang.”
“Oh, iya ya.”
Kami terdiam sejenk.
“jujur aja sih, gue belum siap pake jilbab.” Kata Ega kembali membuka pembicaraan kami.
“bilang aja begitu, sama dia.” Saranku.
“udah. Tapi, dia bilang kalau ga di coba sampai kapanpun gue ga akan siap.”
Aku tak menjawab. Kalau boleh jujur. sebenarnya apa yang dikatakan oleh pacarnya Ega benar, jika kita ada niat maka kesiapan itu akan menyusul dengan sendirinya. Tapi aku tak berani berkomentar lebih banyak, karena aku sendiri belum melaksanakannya dan aku takut bila aku menyuruh orang lain untuk berbuat sesuatu yang aku sendiri tak melakukannya, maka amat besar murka Allah padaku. Dan aku takut untuk mempertanggung jawabkannya di Negri Allah, kelak. Lalu aku berkata. “bilang aja Insha Allah, dan minta doanya supaya lo dikasih kesiapan lahir bathin untuk bisa menutup aurat sesuai anjuran islam. tapi juga sambil lo usahain!” saranku.
“iya, deh. Nanti gue bilang begitu dan Insha Allah, akan gue usahain untuk make jilbab.”
Alhamdulillah.
Beberapa hari kemudian. Aku melihat Ega mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan jilbabnya. Subhanallahs. Kalau Allah berkehendak, maka hal yang sulit akan menjadi mudah. Dan Allah memberi hidayah melalui siapa, apa dan bagaimana sekehendaknya.
Mudah-mudahan, Allah juga berkehendak memilihkanku jodoh yang baik, taqwa dan penyayang. Amin.

                                                     ***

Kemarin, teman ku yang satu lagi datang. Namanya, Indie. Dia bermaksud meminta solusi padaku bagaimana cara memposisikan dirinya disaat ia sudah memiliki pasangan. Pasalnya, ia selalu saja di nilai salah dalam bergaul dengan teman-temannya oleh pacarnya. Alasannya, ia terlalu dekatlah dengan teman lelakinya atau terlalu urakan. Padahal, menurutnya ia sudah bersikap biasa saja. Jadi apanya yang salah?
“bisa jadi, apa yang kita anggap baik belum tentu baik pula buat orang lain. Begitu juga dengan sikap kita.” Nasehatku.
“jadi, gue harus gimana? Masa, gue ketawa aja ga boleh kenceng-kenceng.” keluhnya memelas.
“ya jelas aja, kalau lo di larang ketawa kenceng-kenceng. Lo tahu ga sih, kalau sebenernya aurat perempuan itu bukan Cuma dari ujung rambut sampe ke telapak kaki, kecuali muka dan telapak tangan? Melainkan, suara juga termasuk ke dalamnya.” Nasehatku.
“pantes, lo ga pernah bicara keras atau ketawa terbahak-bahak.” Katanya mengoreksiku. “tapi, gue kan udah terbiasa dengan semua itu.”
“justru itu, mulai sekarang lo harus ngerubah semua kebiasaan buruk itu.”
“tapi, ga mudah buat gue kalau harus mendadak berubah.” Keluhnya.
“perlahan! Karena setiap klimaks, selalu di awali dengan proses.”
“iya, gue tahu. Semua pasti ada prosesnya. Tapi gue ga bisa.”
“ga bisa, apa ga mau?” celetukku.
“gimana ya? Gue kan masih mau main dengan teman-teman gue yang lain.” Ujarnya memelas.
“ga ada yang larang lo main dengan teman-teman lo. Tapi, asalakan lo bisa membatasi diri dengan mereka!” nasehatku.
Ia pun tak bertanya lagi padaku. Sepertinya ia sudah menemukan letak kesalahannya atau karena takut aku komentai lagi?.
Kalau dipikir-pikir. Apa lebih baik aku buka praktek konsultasi pra nikah aja ya? Hehe. Habisnya, banyak banget yang sering curhat ke aku. Padahal, aku sendiri belum punya pasangan. Kalau boleh di bilang pengalaman pacaranku ga terlalu luas di banding teman-temanku yang sering curhat. Dalam setahun, mereka bisa lima sampai delapan kali ganti pasangan. Tapi, aku. Dalam setahun, satu aja belum tentu. Tapi justru, mereka malah lebih percaya dengan saranku. Dan berkat curhatan merekalah, aku jadi makin banyak tahu tentang sisi baik dan buruk seorang laki-laki serta bagaimana cara menghargai pasangan. Oleh karena itu, aku jadi makin hati-hati dalam memilih pasangan hidupku. Bukan bermaksud untuk belagu. Tapi, usaha boleh kan?! Asal ga terlalu menaruh harapan pada usaha dan rencana kita. Karena semuanya bisa berubah sekejap mata bila Allah menghendakinya.
                                                     ***
Pagi ini. aku sendiri di taman kampus. Ga ada yang curhat. Mungkin mereka lagi ga punya problem kali ya?
Iseng juga sendiri tanpa mereka-mereka yang sering curhat. Memang nasib jomblo seperti ini. punya temen, tapi datengnya kalau lagi butuh saran doang. Ehm, aku jadi pengen cepet-cepet punya pacar nih. Biar ga jomblo sampe jompo. Haha.
Tiba-tiba. Saat aku sedang asik baca buku di taman, seorang diri. Teman sekelasku datang menghampiri. Ia seorang pria tampan dengan lesung pipit yang menawan. Kullitnya sawo mateng dan senyumannya manis, tuh kan sampe di semutin.
“hai, Diva.” Sapanya hangat.
Aku jadi salah tingkah. Aku ga pernah mengkhayal bakal di deketin begini sama cowok keren satu ini. pasalnya, ia adalah idaman cewek-cewek kampusku. Bahkan, ke tiga sahabatku sempat naksir sama dia. Tapi sayangnya, cowok satu ini, terbilang pendiam dan ga banyak gaya. Jadi terkesan susah di deketin sama cewek-cewek agresif lainnya.
“hai..” jawabku gerogi.
“gue boleh duduk di sini?”
“boleh..” jawabku makin gerogi.
Lalu. Ia pun duduk di samping kiriku. Lama kami terdiam. Hanya sesekali saling melempar pandang dan tersenyum seadanya. Waduh, kayak gimana ya, kalau senyum seadanya? Ya gitu lah kira-kira.
Lalu aku memberanikan diri membuka pembicaraan. Aku berkata. “lagi nungguin orang ya?”
Ia menatap ke arahku sebelum menjawab. “ga juga. Aku Cuma mau duduk bareng kamu aja.”
Ya ampyun! Ga nyangka banget deh. Aduh, jadi melayang ga nginjek bumi nih, bisa-bisa.
“ga papa kan, kalau aku duduk di sini?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk gugup.
“sebenarnya, aku udah lama banget mau deket sama kamu.” Akunya, bikin aku makin mati gaya.
“oh, ya?” tanyaku terkejut.
“aku kagum sama prestasi kamu.”
Prestasi? Prestasi yang mana? Perasaan aku bukan mahasiswi teladan di kampus ini. wah, jangan-jangan dia salah orang nih. “sorry, prestasi apaan ya?” tanyaku penasaran.
“masa ga tahu sama prestasi sendiri? Itu lho, pemecah rekor jomblo.” Guraunya.
Astaghfirullah! Kirain prestasi apaan?. Aku tak menjawab. Aku hanya tertawa bersamanya.
“ga bosen ya, jadi jomblo?” ejeknya.
Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya. Kemudian menjawab. “bosen juga sih. Tapi belum ada yang naksir. Gimana donk?” gurauku.
“kalau aku yang naksir, gimana?” tembaknya dengan senyuman manis pula.
Aku terbelalak. Takjub.
“ga minat ya?” tanyanya sedikit terlihat kecewa.
“enggak kok. Minat!.” Samberku keceplosan.
Ia tertawa senang. Lalu kembali berkata. “mau ga jadi pendamping aku?”
“pendamping?” tanyaku tak paham.
“pendamping itu, lebih dari sekedar pacaran. Aku mau ngajak kamu ke hubungan yang lebih serius dan berlanjut kepelaminan.” Ujarnya sungguh-sungguh.
Aku terbelalak. Tak menyangka. Semuanya terjadi begitu cepat. “kita belum saling kenal lebih jauh.”
“mau sejauh apa?” tanyanya.
“identitas, keluarga, sifat..” kataku hati-hati.
Tak lama kemudian. Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yang ia ambil dari saku belakang celananya. Lalu ia memberikan sebuah KTP nya padaku seraya berkata. “ini, identitasku. Selanjutnya, aku akan bawa keluargaku ke rumah kamu dan biar mereka yang beri tahu kamu mengenai sifatku.” Katanya yakin.
Aku makin tak menduga. Ia benar-benar serius dengan ucapannya. Singkat cerita. Aku menerimanya. Kemudian, aku menceritakannya pada sahabat-sahabatku. Seperti aku, mereka pun tak mempercayainya. Mereka benar-benar merasa iri dengan ku.
Aku bisa pamer sekarang. Hehe. Tapi, ga boleh begitu juga dong. Kita harus tetap rendah hati dan tidak sombong serta harus rajin menabung pula. Haha..
Alhamdulillah. Bila kita mau bersabar dan ikhtiar untuk mendapatkan jodoh yang baik. Maka, kita akan mendapatkannya sesuai dengan pribadi kita. Karena sesungguhnya, pasangan hidup kita adalah cerminan dari diri kita.
So, ladies. Berbaik prilakulah agar mendapat pasangan yang baik pula. Jangan pecicilan ya. Karena sesungguhnya, cowok yang baik itu selalu menginginkan cewek yang baik juga!

Senin, 19 Desember 2011

semangatku terkubur


                Pagi ini, udara terasa begitu dingin. Jujur saja aku enggan pergi kesekolah hari ini. tapi, ketika ku ingat lagi tentang sepasang mata bening yang berbinar yang selalu menampakan kasih sayang, aku jadi kembali bersemangat. Ya, dia lah semangat ku saat ini.
Ku langkah kan kaki dengan tergesa-gesa. Karna ingin cepat sampai di sekolah dan bertemu ‘semangat’ku. Tiba-tiba, di tengah jalan. Ada sebuah mobil yang mogok. Tak berapa lama kemudian, keluar seorang gadis berpakaian seragam sekolah sama seperti ku.
Aku terkejut. Ternyata, gadis itu adalah semangatku. Lalu aku makin semangat saja. Kemudian aku bergegas menghampirinya.
“hai, kenapa mobilnya?” tanyaku basa-basi pada semangatku.
“oh..” jawabnya sedikit terkejut dengan kedatanganku. Lalu ia melanjutkan kata-katanya. “..ga tau nih. Tiba-tiba mogok.”
Mendengar suaranya yang manja dan lembut. Aku jadi terpancing untuk tersenyum dan terpaku sejenak. Lalu aku berkata padanya. “gimana kalau bareng aja sama aku?” tawarku mengambil kesempatan.
Ia terkejut mendengar tawaranku. Lalu ia berkata. “memangnya kamu sekolah dimana?”
“sekolah, dimana kamu juga sekolah.” Jawabku mantap.
Ia kembali terkejut. Lalu berfikir sejenak sebelum berkata. “oh, ya? Kelas berapa?”
Lalu aku kembali menjawab lagi dengan semangat. “sekelas sama kamu.”
Kali ini ia lebih terkejut dari sebelumnya. Ia ternganga saat tau aku adalah temen sekelasnya yang tak pernah ia tengok sedikitpun. Maklum ia adalah gadis pemalu yang tak suka berbaur dengan yang lain.
Lalu ia berkata setengah tak percaya. “masa sih? Kok aku ga pernah liat kamu?”
“lagian, mukanya nunduk aja sih. Sekali-kali liat dong temen sekelasnya yang ganteng ini.” Jawabku mulai sok akrab dengan nada bercanda.
Lalu ia tersenyum manis. Ini bagian yang paling ku suka darinya. Saat ia menyunggingkan senyuman manisnya yang jarang terlihat.
“gimana? Jadi ikut ga?” tanyaku memastikan.
Ia kembali berpikir sejenak. Lalu menganggukkan kepalanya malu-malu. Kemudian, memberitahukan pada sopirnya, bahwa ia akan ikut bersama dengan ku.
Aku tersenyum senang sekali. ini adalah hari paling membahagiakan bagiku. Setelah setahun menjadi pengagum rahasianya, terhitung mulai dari aku dan dia kelas satu SMA dan saat itu akupun menjadi teman sekelasnya. Namun baru kali ini aku berbicara langsung dengannya, bahkan memboncenginya di motorku.
Sepanjang jalan ia hanya duduk manis dan menundukan kepalanya seperti kebiasaannya.
“rumah kamu dimana?” tanya ku memancing suaranya yang manja untuk bersuara lagi.
“di komplek Gadu” jawabnya lembut setelah terlebih dulu mengangkat kepalanya dan menoleh sedikit kearahku.
“oh, ya. Kamu udah dapet kelompok untuk presentasi?” tanyaku lagi.
“belum”
“masuk kelompokku aja!” pintaku.
“memangnya boleh?” tanyanya.
“ya, boleh lah.” Jawabku yakin. Padahal aku belum tahu, apakah teman-teman kelompokku mengijinkannya atau tidak. Tapi kalau pun tidak mengijinkan, aku pasti akan memaksa mereka untuk menerimanya di kelompok kami. Usaha banget ya. Hehe..
Ia hanya tersenyum sambil menunduk. Diam-diam aku memandanginya dari kaca spion sebelah kiri motorku.
            Beberapa saat kemudian kami sampai di sekolah.
Teman-temanku yang mengetahui jelas tentang perasaanku pada Manja, gadis yang menjadi semangatku selama setahun belakangan. Kontan mereka menjadi heboh. Tak sedikit yang menyiulkan, menggoda dan meledekku. Tapi aku hnya tersenyum.
Sementara Manja merasa jengah dan memilih untuk lekas-lekas meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih.
Lantas aku mengejarnya setelah selesai memarkirkan motorku. Saat ini pula, teman-temanku makin menjadi-jadi menggodaku. Tapi seperti tadi, aku tak terlalu menghiraukan mereka.
“Manja!” seru ku memanggil sambil menghampirinya.
Langkahnya terhenti menungguku menghampirinya.
“bareng ya ke kelasnya.” Ujarku.
Ia hanya tersenyum manis, namun kali ini sambil menhela nafas.
“kenapa?”
“ga papa. Aneh aja sama kamu.”
“aku?” tanyaku sambil menunjukan jari telunjukku ke hidungku.
“hm.”
“aneh kenapa?” tanyaku makin penasaran.
Namun ia tak melanjutkan kata-katanya lagi. Padahal aku sangat menantikan ucapan-ucapannya yang selanjutnya.

                                                ***

Rasanya aneh. Setiap hari aku harus selalu merindukannya. Walaupun aku sudah memaksakan diri untuk menepisnya. Tapi ia selalu ada, mulai dari aku terjaga sampai terlelap. Bahkan, ia masih sempat-sempatnya mampir di mimpiku tiap malam.
Oh, cinta.. kenapa begitu menyiksa.
Hari demi hari berlalu. Kini aku sudah mulai melakukan pendekatan ekstra dengannya. Mulai dari pura-pura membahas soal presentasi, sampai menemaninya ke mana pun ia mau pergi di sekolah ini. entah ke kakantin atau ke perpustakaan, tapi kalau ke kamar mandi dia selalu menolak di anterin. Kenapa ya?
Sudah sejauh itu, namun sampai sekarang ia masih saja tak bergeming dengan perasaanku yang kian hari makin dalam padanya.
Lalu aku bermaksud curhat dengan sahabatku. Ia bisa di bilang seorang playboy cap ikan asin.
“cewek itu, seneng di perhatiin dari mulai hal kecil sampai hal besar.” Ujarnya sok menasehati.
“contohnya?” tanyaku tak mengerti. Maklum ini adalah cinta pertamaku, jadi belum lihai membaca hati.
“ah, osnon juga lo! Masa kaya gitu aja ga tau??” dampratnya padaku.
“lah, kan gw belum pernah pacaran.” Aku ku polos.
“oh, iya ya. Gw lupa kalo lo bujang lapuk yang ga laku-laku.” Ejeknya.
Aku ngambek. Lalu berkata. “gw bukannya ga laku. Tapi gara-gara ngejar satu orang, yang lain terbengkalai.” Kataku membela diri.
“sial. Bisa aja lo ngelesnya.” Katanya sambil tertawa kecil. “kalo dia lagi di rumah, lo sms aja. Tanya, dia udah makan apa belom?” sarannya.
“udah, Gw pernah nanya gitu sama dia. Tapi ga di bales sms gw..”
“ga ada pulsa kali, dia. Lo beliin donk!”
“bukannya ga ada pulsa. Tapi pas gw liat jam, ga taunya udah jam 1 pagi.”
 Reza tertawa. Lalu berkata. “kemana aja lo jam segitu baru sms orang nanyain dia udah makan apa belom?” ejeknya.
“gw keasikan browsing di internet. Jadi lupa daratan, ga inget lautan deh.”
“gimana, kalau lo langsung tembak aja!” saran Reza.
“ah, enggak.. enggak! Malu gw.”
“terus mau sampai kapan kaya gini terus? Gw juga udah bosen kali, dengerin curhatan lo.”
“oh, jadi lo udah ga mau dengerin gw curhat lagi?”
“bukan gitu, coy. Masalahnya, dia ga akan tahu perasaan lo ke dia kalo lo ga ngungkapinnya.”
“kalo gw di tolak?” kataku pesimis.
“cari yang lain!” sahutnya, sekenanya.
“parah lo ya.” Semprot ku. “bukan kasih solusi yang baik..”
“ya, kalo pun lo di tolak. Paling enggak. Lo udah ngungkapin perasaan lo ke dia dan lo pastinya jadi tahu apa yang harus lo lakuin terhadap dia. Ga kayak selama ini, lo selalu ngejar-ngejar dia secara rahasia. Bagaimana dia bisa ngerespon lo, sedangkan perasaan lo aja dia ga tahu.”
“tapi, masa dia ga bisa sih baca gelagat gue, gitu?” ujarku.
“..ga semua orang bisa memahami suasana hati kita. Masalah apapun, terlebih lagi yang berkaitan dengan hati. butuh keterbukaan, maka nanti akan timbul pengertian, kemudian pemahaman, baru deh nanti akan ada rasa kebersamaan.” Nasehatnya.
“tumben lo, bener?” ledekku.
“mmm. Osnon! Kalo di kasih tau sama pakarnya, suka nyela aja lo.” Dampratnya bergurau.
Aku terdiam. Terpaku membisu sambil mempertimbangkan apa yang di bilang Reza.

                                                ***

Keesokan harinya. Aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Berangkat dari rumah dengan segenap keberanian yang di paksakan dan semangat yang menggetarkan hati.
Sesampainya di sekolah. Aku langsung masuk ke dalam kelas. Namun, tak biasanya ia belum datang. Biasanya, selalu dia duluan yang datang ke sekolah di banding aku. Atau mungkin hari ini aku yang kepagian datangnya, karna saking semangatnya untuk menyatakan cinta?
Lalu aku menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya bel sekolah berbunyi. Ia belum juga datang. Ternyata ia tak masuk sekolah. Kata beberapa temanku, sopir Manja menitipkan surat pada salah satu temanku yang menyatakan bahwa ia sedang sakit. Mendengar hal itu, aku menjadi lemas. Lalu, kuurungkan niatku untuk kesekian kalinya.

                                                ***

Sebulan kemudian. Sampai saat ini, ia belum juga masuk sekolah. Aku makin gelisah dengan keadaannya. Apa sebenarnya yang terjadi padanya. Tak hanya aku yang menghawatirkannya, tapi teman-teman yang lain juga demikian. pihak sekolah pun sudah mencoba mmenghubungi keluarga Manja, tapi tak dapat di hubungi. Bahkan sesering mungkin pihak sekolah datang ke rumahnya, namun keadaan rumahnya sangat sepi seperti tak berpenghuni. Usai pulang sekolah. Aku bermaksud menjenguknya. Sesampainya di rumahnya, aku di sambut hangat oleh seorang ibu. Setelah ku beritahu maksud kedatanganku. Lantas ibu itu berkata, bahwa ia adalah penghuni baru rumah ini dan orang yang dulu tinggal di sini telah pindah keluar kota.
“Astaghfirullah!!” gumamku terkejut. Aku benar-benar terlambat. Tak lama kemudian aku pun berpamitan dengan yang punya rumah. Lalu ku ayunkan kaki ku dengan langkah gontai menuju motorku. Aku pun berlalu dari rumah itu.

                                                ***

Sudah dua tahun berlalu. Tapi aku tak pernah menyerah untuk mencarinya. Tiba-tiba, aku melihat sosok pria setengah baya yang pernah ku lihat sebelumnya. Tapi aku terlupa siapa dia. Pandanganku terus mengintainya sambil mengingat-ingat siapa orang itu.
Dah inget!! Ternyata ia adalah sopir Manja. Lalu aku berlari kecil menghampirinya yang sedang duduk di warung kecil di pinggir jalan sekitar kampusku.
“permisi, Pak.” Sapa ku.
Bapak itu menatapku penuh tanya. Lalu menjawab. “iya.”
“bapak, sopirnya Manja kan?!” kataku tanpa basa-basi.
“iya..” jawabnya sedikit ragu.
Lalu aku memperkenalkan diriku sambil mengambil posisi duduk di sampingnya di bangku paanjang. “Aku Ugie. Aku teman sekolah SMA Manja. Kalau boleh tahu, sekarang Manja ada di mana ya Pak?”
Mendengar pertanyaanku tentang Manja. Wajahnya langsung berubah menjadi galau. Lalu berkata. “Non Manja udah ga ada di sini lagi.”
“dimana?” tanyaku penasaran.
“tunggu sebentar di sini, saya mau pulang dulu sebentar.” Pintanya. Kebetulan rumahnya tak jauh dari tempat kami mengobrol.
Aku menurut.
Setelah agak lama menunggu. Bapak itu kembali dengan sebuah amplop di tangannya. Lalu bapak itu menyodorkannya padaku. Kemudian memintaku untuk datang ke suatu tempat.
Sekali lagi aku menurut. Aku pergi ke luar kota di mana orang tua Manja tinggal, dengan membawa amplop yang baru saja ku terima, ketempat yang dimaksud oleh bapak itu.
Setelah sampai di sana. “Astaghfirullah! Inikan kuburan..” desisku. “apa maksudnya?” lalu tanpa ragu lagi, aku terus berjalan mengikuti petunjuk si bapak. Sampailah aku pada yang di maksud. Sebuah makam yang indah. Setelah ku lihat di batu nisannya, tertera nama Manja Morrora.
“Innalillahi..” ucapku dengan air mata yang tak terbendung tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Aku benar-benar terpuruk. Aku tersungkur di batu nisannya sambil menangis pilu. Aku benar-benar menyesal telah melewatkan banyak kesempatan saat ia masih ada di pandanganku. Saat ia masih dapat tersenyum padaku. Saat aku masih bisa bercanda dengannya. “Ya Allah. Tak bisa kah Kau memberiku kesempatan untuk memilikinya. Bukankah Engkau lebih tahu bahwa aku sangat mendambanya.?” Hati ku mengiba berdoa pada Allah berharap Allah akan mengasihiku. Walau aku tahu semua takkan mungkin. akhirnya, aku terlelap dalam dekapan erat nestapa.
Singkat cerita. Aku kembali ke rumahku. Lalu membuka amplop yang tak tahu apa isinya. Ternyata, di dalamnya ada sebuah buku harian milik Manja. Lalu dengan perlahan aku membacanya. lalu sampailah aku membaca di bagian yang menghancurkan hatiku. Ini adalah suara hatinya yang berbicara. “Ya Allah, di tengah kekalutanku, di atas kelemahanku dan kekuranganku. Kau hadirkan teman untukku. Aku sangat senang mendengarnya bicara. Aku terhibur bila senyum manisnya merebak. Ya Allah, seandainya Kau memberi ku kesempatan untuk hidup lebih lama. Maka ijinkan aku untuk mencintainya dan selalu mendampinginya. karna dia lah semangat hidupku saat ku sadari aku mencintainya. Ugie.” Di sana tertulis, bahwa ia telah mengalami sakit kanker hati. sudah berkali-kali diminta oleh kedua orang tuanya untuk operasi, tapi ia selalu menolaknya dan alasannya Cuma satu, bahwa ia takut ‘hati’ nya yang baru tak dapat mengenali Ugie yang dia cintai selama ini.
Aku membacanya sambil menangis tersedu. Lalu aku berkata dengan lirih. “Ya Allah. Jika Engkau mempertemukan kami hanya untuk mengecap rasa pedih tanpa peduli cinta kami, aku rela. Jika Engkau menciptakannya tidak untuk bersamaku, akupun rela. Tapi kenapa harus maut yang memisahkan kami?”  
Datang dan perginya sesuatu adalah dari Allah. Serahkanlah semua kepada-Nya. Jadikanlah ikhtiar, doa serta tawakkal sebagai hiasan hidup keseharian.



                                                            The end